Senin, 17 Agustus 2020

Lentera Semesta Pada Muslimah

Bukan tentang sutra yang terbalut pada tubuhnya

Berbusana panjang dengan indahnya hiasan pita

Tak harus emas permata sebagai mahkota

Untuk merakit senyum menembus kabut pesona

Mendongakkan kepala menyirat kehormatan

Berhias intan berlian meraih keanggunan

Menara sanggul memikat perhatian

Sepatu hak tinggi andalan mengalihkan tatapan

 

Namun ketika tunduknya hati dan pandangan

Untuk menempatkan diri pada kemuliaan

Kilaunya terpancar dengan cahaya kesabaran

Menjaga hati, perilaku dan lisan sebagai kehangatan

Jilbab yang terulur sampai dada adalah kehormatan

Maksiat jauh dari kacamata penglihatan

Sholawat dan ayat suci Al-Quran anting pendengaran

Kakinya tertumpu untuk melangkah pada majelis keilmuan

 

Lemah akan rintihan menngingat datangnya ajal

Mantra kehidupan pada tahajud yang sakral

Menghatur lantunan do’a pada hajad yang handal

Berharap diri menjadi sebutir mutiara yang penuh tawakal

Gemulai tari bukanlah ibadah

Karna ibadah adalah saat hati merendah dan tubuh sujud menyembah

Dimana nafas dan doa berpadu cipta indah

Melalui helai demi helai benang tenun sajadah

Tangan yang mengadah tanpa keangkuhan hati yang pongah

 

Wahai muslimah,

Penuh ilmu tegar dengan kebijakan

Menebar kebaikan dan memupuk kedamaian

Kecantikan akhlaqnya pengubah kemajuan zaman

Sibuk mengkaji ilmu tanpa hanyut dalam pesona peradaban

Mengatasi kesulitan dengan sejuta kelembutan

Wanita pendamba syurga penuh romantis

Berjiwa teguh optimis tanpa egois

Tanpa mengumbar gosip dengan sinis dan sadis

Tetap berpegang teguh pada Al-Qu’an dan hadis

 

Meraih syahid dengan menetap istiqomah dalam asa

Jauh dari hina untuk menggapai lentera semesta

Penerang dalam kegelapan dan putus asa

Terangi jalan menuju syurga-Nya dengan cahaya

Agungnya imanmu berselimut kasih mutiara

Pada rahimmu tumbuh generasi bangsa dan agama

Penuh amanah dalam menjaga sebagai calon madrasah pertama

Saat tiba mujahid-mujahid terlahir suci di dunia.

 

 

 

Minggu, 16 Agustus 2020

PAMIT

 

Merangkak dengan terbata, membawa hampa yang tak kunjung reda

Luka itu, telah menyayat dan merampas separuh jiwa

Sang waktu berbisik untuk mengakhiri dan menghapus  jejak yang terlewati

Tanpa akhiran dalam sebuah pamit undur diri

Membangun niat untuk menyelaraskan rasa dan langkah

Menyadarkan arah akan kehadiran yang dibutuhkan saat ada

 

Dua Insan

Kita, dua insan dengan status fakir ilmu saling bertumpu dalam do'a  Mari berproses bersama dengan sungguh dalam penantian penuh kesabar...